Hukum Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw
Al-Mughirah bin Syu’bah
adalah seorang sahabat Rasulullah Saw yang meriwayatkan banyak hadis sehingga
tidak seorang pun yang mencela pribadi al-Mughirah bin Syu’bah. Pujiaan-pujian
yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi disebabkan karena
para sahabat secara umum adalah ‘Adil. Oleh karena itu
pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari al-Rasulullah dengan
lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan
diyakini ketersanbungan sanadnya.
b. Hadis-hadis
tentang larangan kencing berdiri
Sanad yang dipilih oleh
penulis untuk dilakukan penelitian secara langsung dalam penelitian sanad
terhadap hadis-hadis yang termasuk klasifikasi kedua di atas adalah sanad
al-Nasa’i melalui jalur ‘Ali bin Hujr Urutan periwayat yang tergabung dalam
rangkaian sanad yang dimaksud adalah: a. ‘Aisyah (Periwayat I, sanad VII); b.
Abihi (Periwayat II, Sanad VI); c. Al-Miqdam bin Syuraih (Periwayat III, sanad
V); d. Syuraik (Periwayat IV, sanad IV); e. ‘Ali bin Hujr (Periwayat V,sanad
III); f. Al-Nasa’i (Periwayat VII, Mukharrij Hadis).
Al-Nasa’i (215-303 H). Dia adalah Ahmad bin
Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar Abu Abd al-Rahman al-Nasa’i
al-Qadhy al-Hafidh (penyususn kitab Sunan). Dia mendengarkan dan meriwayatkan
hadis dari banyak Ulama Hadis yang tidak terhitung jumlahnya, kesemuanya
tercantum di dalam kitabnya al-Sunan. Dia meriwayatkan ilmu Qiraat dari Ahmad
bin Nashr al-Naisabury dan Abu sy’aib al-Susy. Adapun yang meriwayatkan hadis
darinya adalah putranya Abd al-Karim, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq
bin al-Sunny, Abu ‘Ali al-Hasan Ibnu al-Khadhr al-Asyuthy,al-Hasan bin Rasyiq
al-‘Askary, Abu al-Qasim Hamzah bin Muhammad bin ‘Ali al-Kannany al-Hafidh, Abu
al-Hasan Muhammad bin Abd Allah bin Zakariya bin Habuyah, Muhammad bin
Mu’awiyah bin al-Ahmar, Muhammad Ibnu Qasimal-Andalusy, ‘Ali bin Abi Ja’far
al-Thahawy, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin al-Muhandis (kesemuanya merupakan
periwayat dari kitab al-Sunan karya al-Nasa’i) dan lain-lain.[42]
Al-Nasa’i adalah seorang
periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya.
Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu
‘Ady berkata : Aku mendengarkan Mansur al-Faqih dan Ahmad bin Muhammad bin
Salamah al-Thahawykeduanya berkata: Abu Abd al-Rahman adalah soerang Imam kaum
muslimin.
2) Muhammad
bin Sa’ad al-Barudy berkata; Aku menanyakan kepada Qashim al-Muthraz perihal
al-Nasa’i, beliau berkata; dia adalah seorang Imam atau lebih pantas menjadi
seorang Imam.[43]
Tidak seorang pun yang
mencela pribadi al-Nasa’i. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat
tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis
tersebut dari Ali bin Hajar dengan lambang akhbarana (metode al-Sama’),
dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Ali bin Hujr. Dia adalah Ali bin
Hajar bin Ayas bin Muqatil bin Makhadisy bin Masymarakh bin Khalid al-Sa’dy Abu
al-Hasan al-Marwazy. Dia meriwayatkan dari ayahnya Ayas yang digelar
dengan al-Khayyath, Khalaf bin Khalifah, Isa bin Yunus, Ismail
bin Ja’far, Ismailbin ‘Ulayyah, Jarir, Ibnu al-Mubarak, al-Darawrdy, Ubaid
Allah bin ‘Amr al-Raqy, Isa bin Yunus, al-Fadhl bin Musa al-Sinany, al-Walid
bin Muslim, Ali bin Mashar, Baqiyyah, Ismail bin ‘Iyasy, Sa’dan Ibnu Yahya
al-Lakhamy, Abd Allah bin Abd al-Rahman bin Yazid bin Jabir, Ibnu Abi Hazim, Attab
bin Basyir, Syuraik bin Abd Allah al-Nakha’i, Hisyam bin Basyir dan
lain-lain. Dan yang meriwaytkan darinya adalah; al-Bukhary, Muslim,
al-Tirmidzy, al-Nasa’i, Ahmad ibnu Abi al-Hiwary, Abbu Bakar Ibnu
Khuzaimah, Abu Amr al-Mustamla, Muhammad bin Hamdawaih, Abu Raja’,Muhammad bin
Ali al-Hakim al-Tirmidzy, Ahmad bin Ali al-Abar, Muhamad bin Ali bin Hamzah
al-Marwazy, Muhammad bin Yahya bin Khalid al-Marwazy, al-Hasan bin Sofyan,
Abdan bin Muhammad al-Marwazy, al-hasan bin al-Thayyib al-Marwazy, al-Hasan bin
al-Thayyib al-Balkhy, dan lain-lain.[44]
Ali bin Hujr adalah
seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya.
Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Muhamad
bin Ali bin Hamzah al-Marwazy berkata : Dia adalah seorang yang memiliki
keutaman dan seorang hafidh.
2) Al-Nasa’i
berkata; Tsiqah, Ma’mun, Hafidh
3) Al-Khathib
berkata: Dia adalah orang yang shaduq, mutqin, hafidh,hadis-hadis
yang diriwayatkannya masyhur di daerah Marwa.[45]
Tidak seorang pun yang
mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya
berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau
menerima hadis tersebut dari Syuraik dengan lambang anba’ana (metode al-Sama’),
dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Syuraik. Dia adalah Syuraik bin
Abd Allah bin Abi Syuraik al-Nakha’y Abu Abd Allah al-Kufy, al-Qadhy.[46] Dia meriwayatkan dari Ziyad bin
‘Alaqah, Abu Ishaq al-Sabi’i, Abd al-Malik bin Umair, al-Abbas bin Dzuraih,
Ibrahim bin Jariral-‘Ajaly, Ismail bin Abi Khalid, al-Rakin bin al-Rubayyi’,
Abu Fizarah Rasyid Ibnu Kisan, ‘Ashimbin Sulaiman al-Ahwal, Sammak bin Harb,
al-A’masy, Mansur, Zubaid al-Yamy, ‘Ashimbin Bahdalah, ‘Ashim bin Kulaib, Abd
al-Aziz bin Rafi’, al-Miqdam bin Syuraih, Hisyam Ibnu Urwah, Ubaid
Allah bin Umar, ‘Ammarah bin al-Qa’qa, Ammar al-Duhny, ‘Atha bin al-Saib dan
lain-lain. Dan yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu Mahdi, Waki’, Yahyabin
Adam, Yunus bin Yahya al-Muaddib, al-Fadhl bin Musa al-Sinany, Abd al-Salam bin
Harb, Husyaim, Abu al-Nadhr Hasym bin al-Qasim, Abu Ahmad al-Zubairy, Ishaq
al-Azraq, al-Aswad bin Amir, Husain bin Muhammad al-Marwazy, Ya’qub bin Ibrahim
bin Sa’ad, Ali bin Hujr, Muhammad bin al-Thufail al-Nakha’y dan
lain-lain.[47]
Syuraik adalah seorang
periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya.
Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu
Ma’in berkata : Syuraik adalah orang Tsiqah, dia lebih baik
disisiku dari Abu al-Ahwash dan Jarir sebab dia meriwyatkan hadis dari satu
kaum yang tidak diriwayatkan oleh Sofyan al-Tsaury. Beliau juga pernah berkata;
Syuraik tidak sebanding dengan Yahya al-Qaththan sebab dia adalah orang
yang tsiqah tsiqah. Ibnu Ma’in pernah mendapatkan pertanyaan
Abu Ya’la, mana diantara Syuraik dan Jarir yang lebih baik menurutnya Ibnu
Ma’in berkata; Jarir, kemudian mana diantara Syuraik dan al-Ahwash yang lebih
baik disisinya keudian beliau berkata; Syuraik tsiqah tidak mutqin dan
tekdang ghalat. Pada sisi lain Ibnu Ma’in menatakan bahwa Syraik
lebih berilmu dari al-Aahwash.
2) Mu’awiyah
bin Shaleh berkata dari Ibnu Ma’in; Syuraik adalah orang yang shaduq
tsiqah hanya saja jika riwayatnya berbeda dengan yangtsiqah, maka
dia berubah keadaannya.
3) Yahya
bin Said berkata: Syuraik masih tergolong Mukhallith.
4) Al-‘Ijly
berkata; Syuraik adalah seorang ahliKufah yang Tsiqah, dan memiliki
hadis yang bersifat hasan, dan riwayat yang terbaik darinya
adalah yang diriwayatkan oleh Ishaq al-Azraq.
5) Waki’
berkata; belum terdapat riwayat yang lebih baik dari kalangan ahli Kufah
kecuali riwayat dari Syuraik.
6) Isa
bin Yunus berkata; Aku belum menemukan seorangpun yang lebihwara’ terhadap
ilmunya selain Syuraik.
7) Ibnu
al-Mubarak berkata; Syuraik lebih mengetahui hadis-hadis yang diriwayatkan
darii kalangan ulama Kufah darial-Tsaury.
8) Ibnu
al-Madiny berkata; Syuraik lebih mengetahui dari pada Israil, tetapi kesalahan
Israil lebih sedikit dari pada Syuraik.[48]
Memperhatikan komentar
para kritikus Rijal al-Hadis di atas ketika mengomentri
tentang keadaan pribadi dan periwatan Syraik menunjukkan bahwa Syraik adalah
orang yang tsiqah, namun pada sisi yang lain dia juga sering
melakukan kesalahan dalam periwayatan bahkan disebutkan bahwa keesalahan
Syuraik dalam periwayatan lebih banyak dari pada kesalahan yang dilakukan oleh
Israil. Sehingga Ibnu Ma’in memilikikomentar yang sangat beragam menyangkut
keadaan intelektual dan periwayatan Syuraik. Meskipun demikian secara umum
Syuraik dimata para Kritikus Rijal al-Hadis masih
menganggapnya sebagai orang yangTsiqah. Untuk menentukan keadaan
perawi ini –Syuraik-, maka penulis lebih memilih untuk mengatakan bahwa Syraik
adalah perawi yang tsiqahdengan berlandaskan pada kaidah al-Ta’dil
Muqaddam ‘ala al-tajrih(mendahulukan keadilan dari celaan), dan
riwayatnya dari al-Miqdam bin Syuraih dengan lambang ‘an (lambang
pertemuan langsung dengan metodeal-sama’) diyakini ketersambungan
sanadnya.
Al-Miqdam bin
Syuraih. Dia adalah al-Miqdambin Syuraih bin Hany bin Yazid al-Haritsy
al-Kufy. Dia meriwayatkan dari ayahnya Syuraih bin Hany dan Qumair istri Masruq
bin al-Ajda’. Dan yang meriwayatkan darinya adalah; Israil bin Yunus, Sofyan
al-Tsaury, Sulaima al-A’masy, Syarik bin Abd Allah, Syu’bah bin
al-Hajjaj, Abd al-Malik bin Abi Sulaiman, Qais bin al-Rabi’, Mas’ar bin Kidam,
putranya Yazid bin al-Miqdam.[49]
Al-Miqdam bin Syraih adalah seorang periwayat hadis yang terpuji
integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari
pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan al-Nasa’i semuanya berkata : Dia
adalah tsiqah.
2) Abu Hatim Menambahkan; shalih al-Hadis
Tidak seorang pun yang
mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya
berperingkat tinggi dan tertinggi bahkan al-Bukhary meriwaytkan hadis-hadisnya
dalam shahihnya kitab al-Adab dan‘Af’al al-‘Ibad. Oleh
karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari ayahnya dengan
lambang ‘an (metode al-Sama’),
dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Abihi. Dia adalah Syuraih bin
Hany bin Yazid bin Haibak. Dikatakan pula; Ibnu Yazid bin al-Harits bin Ka’ab
al-Haritsy al-Madzhajy, Abu Miqdam al-Kufy asalnya dari Yaman. Dia hidup pada
masa Rasulullah Saw hanya saja tidak bertemu, dia merupakan sahabat utama dari
Ali bin abi Thalib dan menyaksikan peristiwa Tahkim di
Dumatujandal (nama tempat). Dia meriwayatkan dari kalangan sahabat diantaranya;
Bilalbin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, Umar bin
al-Khaththab, ayahnya Hany (yang juga pernah dengan Rasulullah Saw), Abu
Hurairah, Aisyah Ummu al-Mu’minin. Dan yang meriwayatkan darinya adalah; Habib
bin Abi Tsabit, al-Hakam bin ‘Utaibah,’Amir al-Sya’by, al-Abbas bin Dzuraih,
al-Qasim bin Mukhaimarah, putranya Muhammad dan al-Miqdam,Yunus bin Abi
Ishaq al-Sabi’i, dan Muqatil bin Basyir.[51]
Syraih bin Hany adalah
seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan
intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang
dirinya:
1) Al-Qasim
bin Mukhaimarah berkata : aku tidak menemukan seorang keturunan al-Harits yang
lebih mulia dari syuraih bin Hany.
2) Yahya
bin Ma’in dan selainnya berkta; Tsiqah
3) Al-Atsram
berkata; telah ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal perihal Syraih bin Hany,
apakah hadisnya Shahih? Beliau menjawab; Ya, dan hal ini telah diketahi sejak
lama.[52]
Tidak seorang pun yang
mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya
berperingkat tinggi dan tertinggi bahkan al-Bukhary keshahihan hadis-hadis yang
diriwayatkannya berdadsarkan penuturan Ahmad bin Hanbal telah diketahuioleh
para Muhaddisin sejak lama. Oleh karena itu pernyataannya
bahwa beliau menerima hadis tersebut dari ‘Aisyah Ummu al-Mu’minin dengan lambang ‘an (metode al-Sama’),
dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
‘Aisyah. Dia adalah ‘Aisyah
binti Abi Bakr al-Shiddiq al-Taimiyyah ummu al-mu’minin, kuniyahnya Ummu Abd
Allah al-faqihah. Dia meriwayatkan banyak hadis dari Rasulullah Saw, ayahanya,
Umar bin al-Khaththab, Hamzah bin ‘Amr al-Aslamy, Sa’ad bin Abi Waqqash,
Fathimah al-Zahra’ (putri Rasulullah saw). Dan yang meriwaytkan darinya dari
kalangan sahabat adalah; ‘Amr bin al-‘Ash, Abu Musa al-Asy’ary, Zaid bin Khalid
al-Juhany, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas, Rabi’ah bin ‘Amr
al-Jarsyi,al-Ssaib bin Yazid, al-Haris bin Abdullah bin Naufal dan lain-lain,
adapun dari kalangan keluarga ayahnya yang meriwaytkan darinya adalah; saudara
perempuannya Ummu Kaltsum, saudara sesusuannya ‘Auf bin al-Harits bin
al-Thufail, al-Qashim dan Abd Allah keduanya putra dari saudaranya Muhammad bin
Abu Bakr al-Shiddiq, Hafsah dan Asma’ keduanya putrid dari saudaranya Abd
al-Rahman, cicitnya Abd Allah bin Muhammad bin Abd al-Rahman bin Abu Bakr
al-Shiddiq, Abdullah dan Urwah keduanya putra saudara perempuannya dari
al-Zubair bin al-Awwam, cicit dari saudara perempuannya ‘Ubad bin Habib bin
Abdullah bin al-Zubair bin al-‘Awwam dan ‘Ubad bin Hamzah bin Abdullah bin
Al-zubair bin al-‘Awwam, putri saudara perempuannya ‘Aisyah binti Talhah,
pembantunya Abu Yunus, Zakwan Abu ‘Amr dan Ibnu Farrukh dan dari kalangan
tabi’in sa’id bin al-Musayyib, Abd Allah bin ‘Amir bin Rabi’ah, Shafiyyah binti
Syaibah, ‘Alqamah bin Qays, Masruq bin al-Ajda’,Syraih bin Hany, ‘Atha bin Abi
Rabah, ‘Ikrimah dan lain-lain.[53]
‘Aisyah adalah seorang
istri dan sahabat Rasulullah Saw yang meriwayatkan banyak hadis sehingga tidak
seorang pun yang mencela pribadi beliau. Pujiaan-pujian yang ditujukan
kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi disebabkan karena para sahabat
secara umum adalah ‘Adilapalagi ‘Aisyah dari kalangan ahlu
bait Rasulillah Saw., sehingga sangatlah wajar jika dia mengetaui hamper
seluruh pekerjaan Rasulullah saw utamanya yang terjadi di dalam rumah beliau
Saw.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar