Sabtu, 24 Oktober 2015

Hukum Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw Part IV

Hukum Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw 
Al-Mughirah bin Syu’bah adalah seorang sahabat Rasulullah Saw yang meriwayatkan banyak hadis sehingga tidak seorang pun yang mencela pribadi al-Mughirah bin Syu’bah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi disebabkan karena para sahabat secara umum adalah ‘Adil. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari al-Rasulullah dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.


b. Hadis-hadis tentang larangan kencing berdiri
Sanad yang dipilih oleh penulis untuk dilakukan penelitian secara langsung dalam penelitian sanad terhadap hadis-hadis yang termasuk klasifikasi kedua di atas adalah sanad al-Nasa’i melalui jalur ‘Ali bin Hujr Urutan periwayat yang tergabung dalam rangkaian sanad yang dimaksud adalah: a. ‘Aisyah (Periwayat I, sanad VII); b. Abihi (Periwayat II, Sanad VI); c. Al-Miqdam bin Syuraih (Periwayat III, sanad V); d. Syuraik (Periwayat IV, sanad IV); e. ‘Ali bin Hujr (Periwayat V,sanad III); f. Al-Nasa’i (Periwayat VII, Mukharrij Hadis).
Al-Nasa’i (215-303 H). Dia adalah Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar Abu Abd al-Rahman al-Nasa’i al-Qadhy al-Hafidh (penyususn kitab Sunan). Dia mendengarkan dan meriwayatkan hadis dari banyak Ulama Hadis yang tidak terhitung jumlahnya, kesemuanya tercantum di dalam kitabnya al-Sunan. Dia meriwayatkan ilmu Qiraat dari Ahmad bin Nashr al-Naisabury dan Abu sy’aib al-Susy. Adapun yang meriwayatkan hadis darinya adalah putranya Abd al-Karim, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq bin al-Sunny, Abu ‘Ali al-Hasan Ibnu al-Khadhr al-Asyuthy,al-Hasan bin Rasyiq al-‘Askary, Abu al-Qasim Hamzah bin Muhammad bin ‘Ali al-Kannany al-Hafidh, Abu al-Hasan Muhammad bin Abd Allah bin Zakariya bin Habuyah, Muhammad bin Mu’awiyah bin al-Ahmar, Muhammad Ibnu Qasimal-Andalusy, ‘Ali bin Abi Ja’far al-Thahawy, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin al-Muhandis (kesemuanya merupakan periwayat dari kitab al-Sunan karya al-Nasa’i) dan lain-lain.[42]
Al-Nasa’i adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu ‘Ady berkata : Aku mendengarkan Mansur al-Faqih dan Ahmad bin Muhammad bin Salamah al-Thahawykeduanya berkata: Abu Abd al-Rahman adalah soerang Imam kaum muslimin.
2) Muhammad bin Sa’ad al-Barudy berkata; Aku menanyakan kepada Qashim al-Muthraz perihal al-Nasa’i, beliau berkata; dia adalah seorang Imam atau lebih pantas menjadi seorang Imam.[43]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi al-Nasa’i. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari Ali bin Hajar dengan lambang akhbarana (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Ali bin Hujr. Dia adalah Ali bin Hajar bin Ayas bin Muqatil bin Makhadisy bin Masymarakh bin Khalid al-Sa’dy Abu al-Hasan al-Marwazy. Dia meriwayatkan dari ayahnya Ayas yang digelar dengan al-Khayyath, Khalaf bin Khalifah, Isa bin Yunus, Ismail bin Ja’far, Ismailbin ‘Ulayyah, Jarir, Ibnu al-Mubarak, al-Darawrdy, Ubaid Allah bin ‘Amr al-Raqy, Isa bin Yunus, al-Fadhl bin Musa al-Sinany, al-Walid bin Muslim, Ali bin Mashar, Baqiyyah, Ismail bin ‘Iyasy, Sa’dan Ibnu Yahya al-Lakhamy, Abd Allah bin Abd al-Rahman bin Yazid bin Jabir, Ibnu Abi Hazim, Attab bin Basyir, Syuraik bin Abd Allah al-Nakha’i, Hisyam bin Basyir dan lain-lain. Dan yang meriwaytkan darinya adalah; al-Bukhary, Muslim, al-Tirmidzy, al-Nasa’i, Ahmad ibnu Abi al-Hiwary, Abbu Bakar Ibnu Khuzaimah, Abu Amr al-Mustamla, Muhammad bin Hamdawaih, Abu Raja’,Muhammad bin Ali al-Hakim al-Tirmidzy, Ahmad bin Ali al-Abar, Muhamad bin Ali bin Hamzah al-Marwazy, Muhammad bin Yahya bin Khalid al-Marwazy, al-Hasan bin Sofyan, Abdan bin Muhammad al-Marwazy, al-hasan bin al-Thayyib al-Marwazy, al-Hasan bin al-Thayyib al-Balkhy, dan lain-lain.[44]
Ali bin Hujr adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Muhamad bin Ali bin Hamzah al-Marwazy berkata : Dia adalah seorang yang memiliki keutaman dan seorang hafidh.
2) Al-Nasa’i berkata; Tsiqah, Ma’mun, Hafidh
3) Al-Khathib berkata: Dia adalah orang yang shaduq, mutqin, hafidh,hadis-hadis yang diriwayatkannya masyhur di daerah Marwa.[45]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari Syuraik dengan lambang anba’ana (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Syuraik. Dia adalah Syuraik bin Abd Allah bin Abi Syuraik al-Nakha’y Abu Abd Allah al-Kufy, al-Qadhy.[46] Dia meriwayatkan dari Ziyad bin ‘Alaqah, Abu Ishaq al-Sabi’i, Abd al-Malik bin Umair, al-Abbas bin Dzuraih, Ibrahim bin Jariral-‘Ajaly, Ismail bin Abi Khalid, al-Rakin bin al-Rubayyi’, Abu Fizarah Rasyid Ibnu Kisan, ‘Ashimbin Sulaiman al-Ahwal, Sammak bin Harb, al-A’masy, Mansur, Zubaid al-Yamy, ‘Ashimbin Bahdalah, ‘Ashim bin Kulaib, Abd al-Aziz bin Rafi’, al-Miqdam bin Syuraih, Hisyam Ibnu Urwah, Ubaid Allah bin Umar, ‘Ammarah bin al-Qa’qa, Ammar al-Duhny, ‘Atha bin al-Saib dan lain-lain. Dan yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu Mahdi, Waki’, Yahyabin Adam, Yunus bin Yahya al-Muaddib, al-Fadhl bin Musa al-Sinany, Abd al-Salam bin Harb, Husyaim, Abu al-Nadhr Hasym bin al-Qasim, Abu Ahmad al-Zubairy, Ishaq al-Azraq, al-Aswad bin Amir, Husain bin Muhammad al-Marwazy, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad, Ali bin Hujr, Muhammad bin al-Thufail al-Nakha’y dan lain-lain.[47]
Syuraik adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu Ma’in berkata : Syuraik adalah orang Tsiqah, dia lebih baik disisiku dari Abu al-Ahwash dan Jarir sebab dia meriwyatkan hadis dari satu kaum yang tidak diriwayatkan oleh Sofyan al-Tsaury. Beliau juga pernah berkata; Syuraik tidak sebanding dengan Yahya al-Qaththan sebab dia adalah orang yang tsiqah tsiqah. Ibnu Ma’in pernah mendapatkan pertanyaan Abu Ya’la, mana diantara Syuraik dan Jarir yang lebih baik menurutnya Ibnu Ma’in berkata; Jarir, kemudian mana diantara Syuraik dan al-Ahwash yang lebih baik disisinya keudian beliau berkata; Syuraik tsiqah tidak mutqin dan tekdang ghalat. Pada sisi lain Ibnu Ma’in menatakan bahwa Syraik lebih berilmu dari al-Aahwash.
2) Mu’awiyah bin Shaleh berkata dari Ibnu Ma’in; Syuraik adalah orang yang shaduq tsiqah hanya saja jika riwayatnya berbeda dengan yangtsiqah, maka dia berubah keadaannya.
3) Yahya bin Said berkata: Syuraik masih tergolong Mukhallith.
4) Al-‘Ijly berkata; Syuraik adalah seorang ahliKufah yang Tsiqah, dan memiliki hadis yang bersifat hasan, dan riwayat yang terbaik darinya adalah yang diriwayatkan oleh Ishaq al-Azraq.
5) Waki’ berkata; belum terdapat riwayat yang lebih baik dari kalangan ahli Kufah kecuali riwayat dari Syuraik.
6) Isa bin Yunus berkata; Aku belum menemukan seorangpun yang lebihwara’ terhadap ilmunya selain Syuraik.
7) Ibnu al-Mubarak berkata; Syuraik lebih mengetahui hadis-hadis yang diriwayatkan darii kalangan ulama Kufah darial-Tsaury.
8) Ibnu al-Madiny berkata; Syuraik lebih mengetahui dari pada Israil, tetapi kesalahan Israil lebih sedikit dari pada Syuraik.[48]
Memperhatikan komentar para kritikus Rijal al-Hadis di atas ketika mengomentri tentang keadaan pribadi dan periwatan Syraik menunjukkan bahwa Syraik adalah orang yang tsiqah, namun pada sisi yang lain dia juga sering melakukan kesalahan dalam periwayatan bahkan disebutkan bahwa keesalahan Syuraik dalam periwayatan lebih banyak dari pada kesalahan yang dilakukan oleh Israil. Sehingga Ibnu Ma’in memilikikomentar yang sangat beragam menyangkut keadaan intelektual dan periwayatan Syuraik. Meskipun demikian secara umum Syuraik dimata para Kritikus Rijal al-Hadis masih menganggapnya sebagai orang yangTsiqah. Untuk menentukan keadaan perawi ini –Syuraik-, maka penulis lebih memilih untuk mengatakan bahwa Syraik adalah perawi yang tsiqahdengan berlandaskan pada kaidah al-Ta’dil Muqaddam ‘ala al-tajrih(mendahulukan keadilan dari celaan), dan riwayatnya dari al-Miqdam bin Syuraih dengan lambang ‘an (lambang pertemuan langsung dengan metodeal-sama’) diyakini ketersambungan sanadnya.
Al-Miqdabin SyuraihDia adalah al-Miqdambin Syuraih bin Hany bin Yazid al-Haritsy al-Kufy. Dia meriwayatkan dari ayahnya Syuraih bin Hany dan Qumair istri Masruq bin al-Ajda’. Dan yang meriwayatkan darinya adalah; Israil bin Yunus, Sofyan al-Tsaury, Sulaima al-A’masy, Syarik bin Abd Allah, Syu’bah bin al-Hajjaj, Abd al-Malik bin Abi Sulaiman, Qais bin al-Rabi’, Mas’ar bin Kidam, putranya Yazid bin al-Miqdam.[49]
Al-Miqdam bin Syraih adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan al-Nasa’i semuanya berkata : Dia adalah tsiqah.
2) Abu Hatim Menambahkanshalih al-Hadis
3) Ibnu Hibban mencantumkannya dalam kitab al-Tsiqat.[50]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi bahkan al-Bukhary meriwaytkan hadis-hadisnya dalam shahihnya kitab al-Adab dan‘Af’al al-‘Ibad. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari ayahnya dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Abihi. Dia adalah Syuraih bin Hany bin Yazid bin Haibak. Dikatakan pula; Ibnu Yazid bin al-Harits bin Ka’ab al-Haritsy al-Madzhajy, Abu Miqdam al-Kufy asalnya dari Yaman. Dia hidup pada masa Rasulullah Saw hanya saja tidak bertemu, dia merupakan sahabat utama dari Ali bin abi Thalib dan menyaksikan peristiwa Tahkim di Dumatujandal (nama tempat). Dia meriwayatkan dari kalangan sahabat diantaranya; Bilalbin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, Umar bin al-Khaththab, ayahnya Hany (yang juga pernah dengan Rasulullah Saw), Abu Hurairah, Aisyah Ummu al-Mu’minin. Dan yang meriwayatkan darinya adalah; Habib bin Abi Tsabit, al-Hakam bin ‘Utaibah,’Amir al-Sya’by, al-Abbas bin Dzuraih, al-Qasim bin Mukhaimarah, putranya Muhammad dan al-Miqdam,Yunus bin Abi Ishaq al-Sabi’i, dan Muqatil bin Basyir.[51]
Syraih bin Hany adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Al-Qasim bin Mukhaimarah berkata : aku tidak menemukan seorang keturunan al-Harits yang lebih mulia dari syuraih bin Hany.
2) Yahya bin Ma’in dan selainnya berkta; Tsiqah
3) Al-Atsram berkata; telah ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal perihal Syraih bin Hany, apakah hadisnya Shahih? Beliau menjawab; Ya, dan hal ini telah diketahi sejak lama.[52]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Ali bin Hujr. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi bahkan al-Bukhary keshahihan hadis-hadis yang diriwayatkannya berdadsarkan penuturan Ahmad bin Hanbal telah diketahuioleh para Muhaddisin sejak lama. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari ‘Aisyah Ummu al-Mu’minin dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
‘Aisyah. Dia adalah ‘Aisyah binti Abi Bakr al-Shiddiq al-Taimiyyah ummu al-mu’minin, kuniyahnya Ummu Abd Allah al-faqihah. Dia meriwayatkan banyak hadis dari Rasulullah Saw, ayahanya, Umar bin al-Khaththab, Hamzah bin ‘Amr al-Aslamy, Sa’ad bin Abi Waqqash, Fathimah al-Zahra’ (putri Rasulullah saw). Dan yang meriwaytkan darinya dari kalangan sahabat adalah; ‘Amr bin al-‘Ash, Abu Musa al-Asy’ary, Zaid bin Khalid al-Juhany, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas, Rabi’ah bin ‘Amr al-Jarsyi,al-Ssaib bin Yazid, al-Haris bin Abdullah bin Naufal dan lain-lain, adapun dari kalangan keluarga ayahnya yang meriwaytkan darinya adalah; saudara perempuannya Ummu Kaltsum, saudara sesusuannya ‘Auf bin al-Harits bin al-Thufail, al-Qashim dan Abd Allah keduanya putra dari saudaranya Muhammad bin Abu Bakr al-Shiddiq, Hafsah dan Asma’ keduanya putrid dari saudaranya Abd al-Rahman, cicitnya Abd Allah bin Muhammad bin Abd al-Rahman bin Abu Bakr al-Shiddiq, Abdullah dan Urwah keduanya putra saudara perempuannya dari al-Zubair bin al-Awwam, cicit dari saudara perempuannya ‘Ubad bin Habib bin Abdullah bin al-Zubair bin al-‘Awwam dan ‘Ubad bin Hamzah bin Abdullah bin Al-zubair bin al-‘Awwam, putri saudara perempuannya ‘Aisyah binti Talhah, pembantunya Abu Yunus, Zakwan Abu ‘Amr dan Ibnu Farrukh dan dari kalangan tabi’in sa’id bin al-Musayyib, Abd Allah bin ‘Amir bin Rabi’ah, Shafiyyah binti Syaibah, ‘Alqamah bin Qays, Masruq bin al-Ajda’,Syraih bin Hany, ‘Atha bin Abi Rabah, ‘Ikrimah dan lain-lain.[53]
‘Aisyah adalah seorang istri dan sahabat Rasulullah Saw yang meriwayatkan banyak hadis sehingga tidak seorang pun yang mencela pribadi beliau. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi disebabkan karena para sahabat secara umum adalah ‘Adilapalagi ‘Aisyah dari kalangan ahlu bait Rasulillah Saw., sehingga sangatlah wajar jika dia mengetaui hamper seluruh pekerjaan Rasulullah saw utamanya yang terjadi di dalam rumah beliau Saw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar