Hukum
Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Telah menjadi kesepakatan
dikalangan kaum muslimin bahwasanya hadis Nabi Saw merupakan landasan syari’at
setelah Al-Qur’an dimana hadis-hadis Rasulullah Saw merupakan penjelas atau
penafsiran atas ayat-ayat Allah yang bersifat mujmal (umum).
Hadis-hadis Rasulullah Saw merupakan bentuk perkataan Rasulullah Saw yang
menggambatrkan tentang akidah, syari’at, muamalah dan akhlak dimana hal
tersebut tidak dapat dipisahkan dari al-Qur’an.
Baik al-Qur’an maupun
hadis-hadis Rasulullah Saw keduanya diungkapkan dalam bentuk perkataan atau
lafadz-lafadz yang tersusun dalam bentuk gabungan huruf-huruf yang mengandung
makna yang luas dan bersifat interpretatatif yang membutuhkan pemahaman baik
secara parsial maupun komprehensif.
secara parsial maupun komprehensif.
Para ulama telah banyak
mengahabiskan umur mereka dalam melakukan penelitian terhadap hadis-hadis
Rasulullah Saw baik dari segi sanad, matan, bahasa, makna maupun kandungan
syri’at yang terdapat didalamnya, hal ini perlu untuk dilakukan melihat banyak
hadis-hadis Rasulullah Saw yang hingga saat ini belum dapat dijangkau makna dan
kandungannya, diantara hadis-hadis Rasulullah tersebut adalah hadis-hadis
Rasulullah Saw yang berhubungan dengan kencing meskipun secara harfiyah ataupun
lafdziyah hadis-hadis yang berhubungan dengan hal ini sangat banyak dan
bertebaran dipelbagai kitab-kaitab hadis baik didalam kitab-kitab Shahih,
Sunan, masanid dan bahkan majami’. Oleh karena itu pada makalah ini penulis
berusaha untuk menyingkap beberapa sisi dalam memehamahi hadis-hadis Rasulullah
Saw yang berhubungan dengan kencing berdiri.
Terdapat berbagai macam
pendapat yang berkaitan dengan berdiri dimana hadis-hadis yang menjelaskan
tentang kedudukan hukum kencing berdiri dalam Islam nampaknya bertentangan,
pada sisi lain terdapat hadis yang membolehkan dan dilain sisi ditemukan pula
hadis yang melarang, kontroversi yang terjadi dalam pelbagai hadis menimbulkan
pertanyaan tentang kebolehan dan ketidak bolehan kencing berdiri.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian di
atas, maka penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
hukum kencing berdiri bila ditinjau dari hadis Nabi Saw?
2. Bagaimana
Hukum Kencing berdiri bila ditinjau dari segi fiqhy Islam?
PEMBAHASAN
A. Penelitian Hadis-Hadis Tentang Kencing Berdiri
1. Takhrij Hadis
Setelah penulis melakukan
penelusuran dalam melakukan takhrij hadis-hadis tentang kencing berdiri melalui
berbagai sumber seperti Mifatah Kunuz al-Sunnah, Mu’jam
al-Mufahras li alfadh al-ahadist an-Nabawiyyah,Mausu’ah Athraf al-Hadist
an-Nabawiyyi al-Syarif, dan Kanzu al-Ummal,maka ditemukan
beberapa lafadh hadis, adapun perincian dari lafadh-lafadh tersebut penulis
memilih untuk menyebutkannya dari Kitab Mifatah Kunuz al-Sunnah dan
dsebutkan dalam bentuk tabel-tabel sebagai berikut :
No
|
Lafadh Makna Hadis
|
Simbol Mukharrij
|
Kitab / Jld
|
No. Bab / No. Hadis/ Hal Kitab
|
1
|
البول واقفا
|
بخ
|
4
46
|
60 – 62
27
|
مس
|
2
|
73 – 74
|
||
بد
|
1
|
13
|
||
تر
|
1
|
9
|
||
نس
|
1
|
16 dan 23
|
||
مج
|
1
|
13
|
||
مى
|
1
|
9
|
||
ما
|
2
|
112
|
||
حم
|
4
|
1962 dan 246
|
||
5
|
3823, 394, 402, 4062, 407
|
|||
2
|
لايبولن وهوواقف
|
تر
|
1
|
8
|
نس
|
1
|
28
|
||
مج
|
1
|
14 dan 26
|
||
حم
|
6
|
136, 192 dan 213
|
||
ط
|
–
|
1515
|
Sumber : Dr. A. J. Vinsenk, Mifath
Kunuz al-Sunnah (Cet. I; Lahore: Akademi Suhail, 1391), h. 83
Dari tabel di atas
menunjukkan bahawa hadis yang menunjukkan tentang kebolehan kencing berdiri
sebagaimana disebutkan dalam Miftâh Kunũz al-Sunnah disebutkan
dalam Shahih al-Bukhary Kitab al-Wudhu’ (4), Bab; Kencing berdiri dan duduk
(60) No Hadis; 224, Bab; Orang yang kencing harus berlindung dibalik dinding
(61), Bab; Kencing ditempat pembuangan sampah suatu kaum (62)[1] dan dalam Kitab al-Mazhalim wa
al-Ghadhab (46), Bab; Kencing berdiri dan kencing pada tempan pembuangan sampah
suatu kaum (27).[2] Dalam Shahih Muslim Kitab Thaharah
(2), Bab; Membasuh Khuf (22) hadis ke 73 dan 74.[3] disebutkan pula dalam Sunan Abu Daud
Kitab Thaharah (1) Bab; Kencing Berdiri (13).[4] Disebutkan pula dalam Sunan
at-Tirmidzy Kitab Thaharah (1), Bab; Bolehnya Kencing Berdiri (9).[5] Disebutkan pula dalam Suanan
an-Nasa’i, kitab Thaharah (1) Baab: Bolehnya kencing di padang pasir dalam
keadaan berdiri.[6] Disebutkan pula dalam Sunan Ibnu
Majah, Kitab Thaharah (1), Bab; tentang kencing berdiri (13).[7] Disebutkan dalam Sunan ad-Darimy
Kitab Shalat dan Thaharah (1), Bab; Tentang Kencing Berdiri (9).[8] Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad,
Bab Musnad al-Kufiyyin, Hadis al-Mughirah bin Syu’bah No. 18068, [9] hadis Khuzaifah bin al-Yaman No.
23134, 23141, 23238, 23307[10]. Dan Disebutkan pula dalam
al-Muwaththa’ Bab; Wudhu dan Thaharah, tentang Kencing Berdiri.[11]
Sementara itu hadis-hadis
yang menunjukkan tentang tidakbolehnya seseorang kencing berdiri sebagaimana
yang ditunjukkan dalam kitab Miftâh Kunũz al-Sunnah disebutkan
dalam Sunan at-Tirmidzy Kitab Thaharah (1), Bab; tentang larangan kencing
berdiri (8).[12]Disebutkan pula dalam Sunan Nasa’i Kitab
Thaharah (1), Bab Kencing di dalam rumah dalam keadaan duduk (28).[13] Disebutkan pula dalam Sunan Ibnu
Majah Kitab Thaharah (1), Bab; Kencing dalam keadaan duduk (14).[14] Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad,
Musnad ‘Aisyah No. 24926, 25472.[15] Dan disebutkan pula dalam
Musnad ath-Thayalisy, Bab; Ahadis an-Nisa’, Hadis ‘Alqamah bin Qays ‘an
‘Aisyah No. 1515.[16]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar