Sabtu, 24 Oktober 2015

Hukum Kencing Berdiri tinjauan Hadits Nabi Muhammad SAW Part I

Hukum Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Telah menjadi kesepakatan dikalangan kaum muslimin bahwasanya hadis Nabi Saw merupakan landasan syari’at setelah Al-Qur’an dimana hadis-hadis Rasulullah Saw merupakan penjelas atau penafsiran atas ayat-ayat Allah yang bersifat mujmal (umum). Hadis-hadis Rasulullah Saw merupakan bentuk perkataan Rasulullah Saw yang menggambatrkan tentang akidah, syari’at, muamalah dan akhlak dimana hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari al-Qur’an.
Baik al-Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah Saw keduanya diungkapkan dalam bentuk perkataan atau lafadz-lafadz yang tersusun dalam bentuk gabungan huruf-huruf yang mengandung makna yang luas dan bersifat interpretatatif yang membutuhkan pemahaman baik
secara parsial maupun komprehensif.
Para ulama telah banyak mengahabiskan umur mereka dalam melakukan penelitian terhadap hadis-hadis Rasulullah Saw baik dari segi sanad, matan, bahasa, makna maupun kandungan syri’at yang terdapat didalamnya, hal ini perlu untuk dilakukan melihat banyak hadis-hadis Rasulullah Saw yang hingga saat ini belum dapat dijangkau makna dan kandungannya, diantara hadis-hadis Rasulullah tersebut adalah hadis-hadis Rasulullah Saw yang berhubungan dengan kencing meskipun secara harfiyah ataupun lafdziyah hadis-hadis yang berhubungan dengan hal ini sangat banyak dan bertebaran dipelbagai kitab-kaitab hadis baik didalam kitab-kitab Shahih, Sunan, masanid dan bahkan majami’. Oleh karena itu pada makalah ini penulis berusaha untuk menyingkap beberapa sisi dalam memehamahi hadis-hadis Rasulullah Saw yang berhubungan dengan kencing berdiri.
Terdapat berbagai macam pendapat yang berkaitan dengan berdiri dimana hadis-hadis yang menjelaskan tentang kedudukan hukum kencing berdiri dalam Islam nampaknya bertentangan, pada sisi lain terdapat hadis yang membolehkan dan dilain sisi ditemukan pula hadis yang melarang, kontroversi yang terjadi dalam pelbagai hadis menimbulkan pertanyaan tentang kebolehan dan ketidak bolehan kencing berdiri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hukum kencing berdiri bila ditinjau dari hadis Nabi Saw?
2. Bagaimana Hukum Kencing berdiri bila ditinjau dari segi fiqhy Islam?

PEMBAHASAN
A. Penelitian Hadis-Hadis Tentang Kencing Berdiri
1. Takhrij Hadis
Setelah penulis melakukan penelusuran dalam melakukan takhrij hadis-hadis tentang kencing berdiri melalui berbagai sumber seperti Mifatah Kunuz al-SunnahMu’jam al-Mufahras li alfadh al-ahadist an-Nabawiyyah,Mausu’ah Athraf al-Hadist an-Nabawiyyi al-Syarif, dan Kanzu al-Ummal,maka ditemukan beberapa lafadh hadis, adapun perincian dari lafadh-lafadh tersebut penulis memilih untuk menyebutkannya dari Kitab Mifatah Kunuz al-Sunnah dan dsebutkan dalam bentuk tabel-tabel sebagai berikut :
No
Lafadh Makna Hadis
Simbol Mukharrij
Kitab / Jld
No. Bab / No. Hadis/ Hal Kitab
1
البول واقفا
بخ
4
46
60 – 62
27
مس
2
73 – 74
بد
1
13
تر
1
9
نس
1
16 dan 23
مج
1
13
مى
1
9
ما
2
112
حم
4
1962 dan 246
5
3823, 394, 402, 4062, 407
2
لايبولن وهوواقف
تر
1
8
نس
1
28
مج
1
14 dan 26
حم
6
136, 192 dan 213
ط
1515
Sumber : Dr. A. J. Vinsenk, Mifath Kunuz al-Sunnah (Cet. I; Lahore: Akademi Suhail, 1391), h. 83
Dari tabel di atas menunjukkan bahawa hadis yang menunjukkan tentang kebolehan kencing berdiri sebagaimana disebutkan dalam Miftâh Kunũz al-Sunnah disebutkan dalam Shahih al-Bukhary Kitab al-Wudhu’ (4), Bab; Kencing berdiri dan duduk (60) No Hadis; 224, Bab; Orang yang kencing harus berlindung dibalik dinding (61), Bab; Kencing ditempat pembuangan sampah suatu kaum (62)[1] dan dalam Kitab al-Mazhalim wa al-Ghadhab (46), Bab; Kencing berdiri dan kencing pada tempan pembuangan sampah suatu kaum (27).[2] Dalam Shahih Muslim Kitab Thaharah (2), Bab; Membasuh Khuf (22) hadis ke 73 dan 74.[3] disebutkan pula dalam Sunan Abu Daud Kitab Thaharah (1) Bab; Kencing Berdiri (13).[4] Disebutkan pula dalam Sunan at-Tirmidzy Kitab Thaharah (1), Bab; Bolehnya Kencing Berdiri (9).[5] Disebutkan pula dalam Suanan an-Nasa’i, kitab Thaharah (1) Baab: Bolehnya kencing di padang pasir dalam keadaan berdiri.[6] Disebutkan pula dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Thaharah (1), Bab; tentang kencing berdiri (13).[7] Disebutkan dalam Sunan ad-Darimy Kitab Shalat dan Thaharah (1), Bab; Tentang Kencing Berdiri (9).[8] Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad, Bab Musnad al-Kufiyyin, Hadis al-Mughirah bin Syu’bah No. 18068, [9] hadis Khuzaifah bin al-Yaman No. 23134, 23141, 23238, 23307[10]. Dan Disebutkan pula dalam al-Muwaththa’ Bab; Wudhu dan Thaharah, tentang Kencing Berdiri.[11]
Sementara itu hadis-hadis yang menunjukkan tentang tidakbolehnya seseorang kencing berdiri sebagaimana yang ditunjukkan dalam kitab Miftâh Kunũz al-Sunnah disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzy Kitab Thaharah (1), Bab; tentang larangan kencing berdiri (8).[12]Disebutkan pula dalam Sunan Nasa’i Kitab Thaharah (1), Bab Kencing di dalam rumah dalam keadaan duduk (28).[13] Disebutkan pula dalam Sunan Ibnu Majah Kitab Thaharah (1), Bab; Kencing dalam keadaan duduk (14).[14] Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad, Musnad ‘Aisyah No. 24926, 25472.[15] Dan disebutkan pula dalam Musnad ath-Thayalisy, Bab; Ahadis an-Nisa’, Hadis ‘Alqamah bin Qays ‘an ‘Aisyah No. 1515.[16]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar