Hukum
Kencing Berdiri; Tinjauan Hadis Nabi Saw
3. Kritik Sanad Hadis
Pada poin sebelumnya penulis telah mengutip hadis-hadis tentang kencing berdiri bersama dengan sanadnya, hadis-hadis tersebut diklasifikasi kepada dua kelompok, itu berarti bahwa sanad yang akan diteliti berjumlah banyak. Oleh karena itu, dalam kegiatan penelitian sanad setiap kelompok dipilih salah satu sanadnya untuk diteliti secara cermat. Berikut ini dikemukakan kualitas sanad berdasarkan klasifikasi masalah yang ada, yakni:
a. Hadis-hadis tentang bolehnya kencing berdiri
Sanad yang dipilih oleh penulis untuk dilakukan penelitian secara langsung dalam penelitian sanad terhadap hadis-hadis yang termasuk klasifikasi pertama di atas adalah sanad Ibnu Majah melalui Ishak bin Mansur. Urutan periwayat yang tergabung dalam rangkaian sanad yang dimaksud adalah: a. Al-Mughirah bin Syu’bah (Periwayat I, sanad VII); b. Abu Wail (Periwayat II, Sanad VI); c. ‘Ashim (Periwayat III, sanad V); d. Syu’bah (Periwayat IV, sanad IV); e. Abu Daud (Periwayat V,sanad III); f. Ishaq bin Manshur (Periwayat VI, sanad II); g. Ibnu Majah (Periwayat VII, Mukharrij Hadis).
Ibnu Majah. Dia adalah Muhammad bin Yazid al-Raba’iy, Abu Abd Allah ibnu Majah (209-273 H). Dia meriwayatkaan hadis dari ‘Ali bin Muhammad al-Tanafasy, Ibrahim bin Munzir, Ishaq bin Mansur, Muhammad bin Abdullah bin Numay, dan lain-lain.[17] Adapun murid yang menerima hadis darinya anatara lain; Abu Ya’la al-Khalily, Abu al-Hasan al-Qattan, dan Abu Thayyib al-Baghdady dan lain-lain.[18]
Ibu Majah adalah seoranng periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Abu Ya’la al-Khalily berkata; Ibnu Majah adalah seorang yang Tsiqah Katsir, Muttafa ‘Alayh, dan pendapatnya menjadi hujjah. Dia memiliki pengetahuan luas dan seorang penghafal hadis.[19]
2) Al-Zahaby (w. 748 H) berkata; Ibnu Majah adalah seorang ahli hadis dan tafsir. Penyusun kitab-kitab al-Sunan, al-Tafsir dan al-Tarikh.[20]
3) Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata; Ibnu Majah adalah seorang penyusun Kitab Sunan yang masyhur. Kitab tersebut merupakan bukti amal dan ilmunya yang luas.[21]
Tidak seorang pun yang mencela pribadiIbnu Majah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari Ishaq bin Manshur dengan lambang haddatsana (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Ishaq bin Mansur. Dia adalah Ishaq bin Mansur bin Bahram al-Kausaj Abu Ya’qub al-Tamimy, an-Naisabury lahir di Marwa dan wafat di Nisabur pada tahun 251 H.[22] Dia meriwayatkan hadis dari Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Ishaq bin Sulaiman al-Razy, Ja’far bin ‘Aun, Hajjaj bin Minhal, Zakariya bin ‘Ady, Sa’id bin Amir, Sofyan bin ‘Uyainah, Abu Daud Sulaiman bin Daud al-Thayalisy dan lain-lain.[23] Dan yang meiwayatkan hadis darinya diantaranya adalah al-Bukhary, Muslim, Tirmidzy, Nasa’i, dan Ibnu Majah, Ibrahim bin Ishaq al-Harby, Ya’qub bin Sulaiman al-Asfarayiny, dan lain-lain.[24]
Ishaq bin Mansur adalah seoranng periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Muslim berkata : beliau adalah seorang yang Tsiqah ma’mun. Salah seorang imam dari kalangan ahli hadis.
2) An-Nasa’i berkata : beliau adalah seorang yang tsiqah tsabt.
3) Abu Hatim berkata : beliau adalah seorang yang shaduq.[25]
Tidak seorang pun yang mencela pribadiIbnu Majah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari Abu Daud al-Thayalisy dengan lambang haddatsana (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Abu Daud. Dia adalah Sulaiman bin Daud bin al-Jarud Abu Daud al-Thayalusy al-Bashry (w. 203 H). Meriwayatkan hadis dari Aiman bin Nabil, Abban bin Yazid al-‘Athar, Ibrahim bin Sa’ad, Jarir bin Hazim, Habib bin Yazid, Harb bin Syadad, Zuhair bin Muhammad, Syu’bah, Sofyan al-Staury, dan lain-lain. Dan yang meriwayatkan hadiss darinya adalah Ahmad bin Hanbal, ‘Ali bin al-Madiny, Ishaq bin Mansur al-Kausaj, Hajjaj bin al-Sya’ir, Muhammad bin Rafi’ dan lain-lain.[26]
Abu Daud al-Thayalisy adalah seoranng periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Umar bin Ali al-Fallas berkata : Aku tidak pernah menemukan seorang muhaddis pun yang lebih baik hafalannya dari Abu Daud al-Thayalisy.
2) Ja’far bin Ali al-Faryabi dari Umar bin ‘Ali dia berkata : Abu Daud adalah seorang yang tsiqah.[27]
3) Abd al-Rahman bin Mahdi berkata : Abu Daud adalah seorang yang paling jujur (Ashdaqu al-Nas).[28]
4) Al-‘Ajly berkata: Tsiqah Katsir al-Hifdh (Abu Daud adalah seorang yang Tsiqah dan memiliki banyak hafalan)
5) Ibnu Sa’ad berkata; Abu Daud adalah seeorang yang Tsiqah memiliki hadis yang banyak, mungkin saja ia pernah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadis.[29]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Abu Daud al-Thayalisy. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari Syu’bah dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Syu’bah. Dia adalah Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Ward al-‘Ataky al-Azdy Abu Bistham al-Washithy (w. 160 H). Dia meriwayatkan hadis dari Anas bin Sirin, Qatadah bin Du’amah, Sofyan al-Staury, Sulaiman bin al-A’masy, ayahnya al-Hajajjaj bin al-Ward, Sa’id bin Masruq, Sammak bin Harb, Abdullah bin Dinar, ‘Atha bin Abi Muslim al-Khurasany, Umar bin Dinar, ‘Ashim bin Bahdalah, Ashim bin Ubaidillah, ‘Ashim bin Sulaiman al-Ahwal dan lain-lain.[30] Dan yang meriwayatkan hadis darinya adalah : al-A’masy, Ayyub, Sa’ad bin Ibrahim, Muhammad bin Ishaq (mereka juga adalah guru beliau), Jarir ibnu Hazim, al-Tsury, al-Hasan bin Shalih (dari yang seangkatan dengannya), Yahya al-Qaththan, Waki’, Ibnu al-Mubarak, Abu Daud al-Thayalisy, abu al-Walid al-Thayalisy dan lain-lain.[31]
Syu’bah adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Yahya bin Ma’in berkata : Syu’bah adalah Imam orang-orang yang bertaqwa.[32]
2) Hammad bin Zaid berkata : Jika terjadi perbedaan antara aku dengan syu’bah dalam masalah hadis, maka aku merujuk kepada perkataannya.[33]
3) Abu Abdullah al-Hakim berkata : Syu’bah adalah Imam para ulama hadis di bashrah.[34]
4) Sofyan berkata: Syu’bah amir al-mu’minin fi al-Hadis.[35]
5) Ahmad bin Hanbal berkata; Syu’bah lebih baik dari al-A’masy dalam masalah hukum, dan Syu’bah lebih baik dari al-Tsaury dalam hadis dimana Syu’bah bertemu langsung dengan 30 orang dari kalangan ahli hadis Kufah yang tidak pernah ditemui oleh Sofyan.[36]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Syu’bah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari ‘Ashim dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
‘Ashim. Dia adalah ‘Ashim bin Bahdalah Ibnu Abi al-Nujud al-Asady al-Kufy Abu Bakar al-Muqry. Dia meriwayatkan dari Zur bin Hubaisy, Abu Abdurrahman al-Sulamy, Abu Wail, Abu Shaleh al-Samman, Abu Rizzin, al-Musayyib bin Rafi’, Mush’ab bin Sa’ad, Ma’bad bin Khalid dan lain-lain. Dan yang meriwayatkan darinya al-A’masy, Mansur, ‘Atha bin Abi Rabah, Syu’bah, Sufayan bin ‘Uyainah, al-Tsury, Abu ‘Arubah al-Hamadany, Zaidah, Abu Khaitsamah, Syuraik, Abu ‘Awanah dan lain-lain.[37]
‘Ashim adalah seoranng periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu Sa’ad berkata : Dia adalah orang yang Tsiqah akn tetapi terkadang melakukan kesalahan dalam beberapa hadis yang diriwayatkannya.
2) Abdullah bin Ahmad dari Ayahnya dia berkata : ‘Ashim adalah seorang yang shaleh seorang pembaca al-Qur’an yang baik dan para penduduk Kufah merujuk kepada bacaannya dan saya merujuknya pula dan dia adalah orang yang baik lagi tsiqah dan al-A’masy lebih baik haflannya dari dirinya, dan Syu’bah lebih memilih meriwayatkan hadis yang diriwaytkan oleh al-A’masy daripada dari periwayatannya.
3) Ibnu Ma’in berkata :la ba’sa bih .
4) Al-‘Ajly berkata: Dia adalah pemilik banyak riwayat dan seorang penghafal al-Qur’an, dia adalah orang yang tsiqah pemuka para ahli qira’at.
5) Ya’qub bin Sofyan berkata; Dia adalah orang yang Tisqah namun dai dalam hadis-hadis yang diriwaytkannya terdapat Idhthirab.[38]
Memperhatikan kritikan-kritikan terhadap ‘Ashim di atas menunjukkan bahwa terdapat dua sisi tentang beliau, disatu sisi disebutkan bahwa beliau adlah orang yang Tsiqah di lain sisi disebutkan bahwa hadis-hadis yang beliau riwayatkan terkadang mengalami kesalahan dari segi penyebutan matannya bahkan terjadi percampuran antara satu matan dengan matan lainnya yang disebut dengan al-Idhthirab fii al-Hadis, meskipun demikian ke-tsiqah-an beliau tidak dapat menghapuskan celaan-celaan yang ada, sebab hadis-hadis yang diriwayatkannya meskipun terkadang terjadi kesalahan tetapi hadisnya masih dapat diperpegangi apalagi disebutkan oleh ibnu Ma’in bahwa ‘Ashim bin Bahdalah la ba’sa bih artinya bahwa kesalahan dalam periwayatannya tidak sampai pada titikkedha’ifan yang sangat fatal atau boleh dikatakan bahwa riwayat-riwayatnya mayoritasnya adalah hasan, minimal adalah hasan li ghairih. Adapun dalam hadis ini beliau menerima hadis dari Abu wail dengan lambang ‘an (metode Sima’) diyakini ketersambungan sanadnya.
Abu Wail (w. 82 H). Dia adalah Syaqiq bin Salamah Abu Wail al-Asady al-Kufy, dia hidup pada masa Nabi Saw akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengan beliau Saw. Dia meriwayatkan hadis dari Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Mu’adz bin Jabal, Sa’ad bin Abi Waqqash, Khuzaifah bin al-Yaman, Ibnu Mas’ud, Sahal bin Hanief, Khabbab bin al-Art, Ka’ab bin Ajarh, Abu Mas’ud al-Anshary, Abu Musa al-Asy’ary, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudry, Abu Hurairah, Usamah bin Zaid, ‘Aisayah, Ummu Salamah, al-Mughirah bin Syu’bah, Amru bin al-Haris bin Abi Dhirar dan lain-lain baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Dan yang meriwayatkan darinya adalah al-A’masy, Mansur, Zubaid al-Yamy, Jami’ bin Abi Rasyid, Husain bin Abdurrahman, Habib bin Abi Tsabit, ‘Ashim bin Bahdalah, ‘Ubadah bin Abi lubabah dan lain-lain.[39]
Abu Wail adalah seorang periwayat hadis yang terpuji integrasi pribadi dan kemampuan intelektualnya. Hal ini terbukti dari pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1) Ibnu Ma’in berkata : Dia adalah orang yang Tsiqah tidak seorang pun yang sepadan dengannya.
2) Waqi’ berkata; Dia adalah seorang yang Tsiqah.
3) Ibnu Sa’ad berkata : Dia adalah orang yang Tsiqah dan memiliki banyak riwayat hadis .[40]
Tidak seorang pun yang mencela pribadi Syu’bah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari al-Mugirah bin Syu’bah dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Al-Mughirah bin Syu’bah. Dia adalah al-Mughirah bin Syu’bah bin Abi ‘Amir bin Mu’tab bin Malik bin Ka’ab ibnu ‘Amr bin Sa’ad bin ‘Auf bin Qissy Abu ‘Isa atau Abu Mhammad al-Tsaqafy. Dia meriwayatkan dari Nabi Saw. Dan yang meriwayatkan darinya putra-putranya mereka adalah ‘Urwah, Hamzah, ‘Aqqar, selain mereka ada Masruk bin al-Ajda’, Nafi’ bin Jubair bin Mut’im, ‘Amir al-Sya’by, ‘Urwah bin al-Zubair, ‘Amr bin Wahab al-Tsaqafy, Qubaidhah bin Dzuwaib, ‘Ubaid bin Nadhlah, Bakr Ibnu Abd Allah al-Muzany, Abu Wail Syaqiq bin Salamah, al-Mughirah bin ‘Abd Allah al-Yasykury, dan lain-lain.[41]
Al-Mughirah bin Syu’bah adalah seorang sahabat Rasulullah Saw yang meriwayatkan banyak hadis sehingga tidak seorang pun yang mencela pribadi al-Mughirah bin Syu’bah. Pujiaan-pujian yang ditujukan kepadanya berperingkat tinggi dan tertinggi disebabkan karena para sahabat secara umum adalah ‘Adil. Oleh karena itu pernyataannya bahwa beliau menerima hadis tersebut dari al-Rasulullah dengan lambang ‘an (metode al-Sama’), dipercaya dan diyakini ketersanbungan sanadnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar